Jumat, 25 Mei 2012

PELATIHAN PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN BRONJONG
Drs.J.A.Untung Aribowo M.Si

A.     Pendahuluan
a.   Latar Belakang
Pelatihan Berdasarkan kompetensi perlu diselenggarakan karena adanya ”Kesenjangan Kompetensi” (Competency Gap). Apabila tidak ada kesenjangan kompetensi sebenarnya tidak perlu pelatihan dan dapat mengikuti uji kompetensi, kecuali apabila terjadi perubahan penerapan metode pelaksanaan tugas baru sesuai tuntutan perkembangan pengalaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi atau untuk penyegaran kembali.
Pada dasarnya tugas Manajemen Mutu Pelatihan Berdasarkan Kompetensi adalah untuk memenuhi tuntutan ”Kompetensi Yang Diinginkan” atau upaya memperkecil, bila perlu menghilangkan ”Kesenjangan Kompetensi” (Competency Gap) yaitu perbedaan kompetensi yang ada dengan kompetensi yang diinginkan dalam hal ini tuntutan yang harus dicapai dinyatakan ”Kompetensi Minimal”.
Permasalahan atau persoalannya adalah sudah adakah rincian kompetensi suatu tugas pekerjaan/ jabatan sebagai alat tolok ukur untuk mengukur kesenjangan kompetensi dan perangkat lainnya untuk melakukan Pelatihan Berdasarkan Kompetensi.
Untuk mendapatkan tolok ukur yang akan dipergunakan mengukur kesenjangan kompetensi maupun penyusunan Standar Kompetensi Jabatan dapat dilakukan analisis kompetensi jabatan dengan metodologi tertentu.
Dalam hal tertentu memang diperlukan pencapaian nilai kompetensi 100% yaitu apabila tugas / pekerjaannya mengandung risiko sangat tinggi, misalnya pilot pesawat terbang atau ahli bedah, perencanaan dan pelaksanaan gelagar jembatan dengan bentang sangat panjang dan sebagainya.
Namun karena masih banyaknya hambatan, perbedaan persepsi, kendala dan hal-hal lain serta mengingat masih dalam tahap transisi, maka pada kondisi tertentu tingkat pencapaian yang dianggap berhasil sementara dapat ditentukan dibawah 100%, misalnya minimal 75% yang makin lama makin dinaikkan.
Dengan uraian diatas perlu kiranya segera ada perubahan persepsi bahwa pelatihan tidak sekedar melaksanakan kursus, target sekian, realisasi sekian, tetapi diperlukan suatu pengelolaan melalui suatu proses sebagai ”Benang Merah” yang merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan maupun dilompati.
 b.  Dasar Hukum Penyusunan Kurikulum Pelatihan
Salah satu unsur proses yang sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan Pelatihan adalah tersedianya Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi yang disusun mengacu pada Standar Kompetensi Kerja.
Penyusunan Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK) untuk pemangku jabatan kerja dilingkungan sektor jasa konstruksi berdasarkan : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 14/ PRT/M/2009, tentang Pedoman Teknis Penyusunan Bakuan Kompetensi Sektor Jasa Konstruksi, lampiran II Pedoman Penyusunan Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi Kerja Jasa Konstruksi.
Pengertian Kurikulum menurut Permen PU Nomor : 14/PRT/M/2009, Tentang Pedoman Penyusunan Bakuan Kompetensi Sektor Jasa Konstruksi pasal 1, butir 3 sebagai berikut:  Kurikulum Pelatihan adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pelatihan tertentu.

  1. Penyusunan Kurikulum Mengacu SKK
Penyusunan Kurikulum dan Silabus Pelatihan Berbasis Kompetensi dilakukan dengan mentransformasi unsur-unsur Standar Kompetensi Kerja  menjadi unsur-unsur Mata atau Materi Pelatihan, dengan uraian sebagai berikut :
a.      Judul Unit Kompetensi merepresentasi Judul Mata Materi Pelatihan.
b.    Judul Elemen Kompetensi merepresentasi Judul Silabus Pelatihan dirumuskan menjadi Sub Silabus Materi/ Modul Pelatihan.
c.  Judul Kriteria Unjuk Kerja (KUK) merepresentasi Judul Sub Silabus Materi Pelatihan dirumuskan menjadi Sub Sub Silabus Materi/ Modul Pelatihan.
Adapun tahapan utama proses penyusunan kurikulum adalah :
a.      Strategi Pencapaian Tujuan Kompetensi
Strategi pencapaian tujuan kompetensi dalam pembuatan kerangka silabus / sub silabus dikembangkan berdasarkan identifikasi dan analisis serta kajian posisi Indikator Unjuk Kerja / Keberhasilan (IUK) masing-masing Kriteria Unjuk Kerja (KUK) terhadap Tingkat Kinerja Kompetensi dan Dimensi Kompetensi.
b.      Identifikasi dan analisis Kompetensi
Identifikasi dan analisis  kompetensi mengacu pada judul Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi, Kriteria Unjuk Kerja. Setiap Kriteria Unjuk Kerja dianalisis persyaratan kompetensinya untuk mengungkapkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja, kemudian dirangkum dan dirumuskan silabus dan sub silabusnya.
c.      Strategi pencapaian tujuan pembelajaran dikembangkan berdasarkan rumusan silabus / sub silabus, kemudian dikaji dan ditetapkan :
a)     Kegiatan pembelajaran Teori (T) dan/ atau Praktek (P)
b)     Metodologi dan media pembelajaran
c)     Waktu Pembelajaran
Waktu pembelajaran dihitung dari masing-masing Kriteria Unjuk Kerja, melalui cara mengukur waktu pembelajaran yang dibutuhkan berdasarkan kajian Indikator Unjuk Kerja / Keberhasilan (IUK) dan fakta peserta pelatihan, dengan mempertimbangkan beberapa variabel seperti pengalaman kerja, latar belakang, tingkat dan mutu pendidikan formal yang disesuaikan dengan sosial budaya tenaga kerja.
Secara matriks dapat digambarkan sebagai berikut :
NO. KODE/ JUDUL UNIT KOMPETENSI : ...........................................................................
ELEMEN KOMPETENSI : .....................................................................................................
Kriteria Unjuk Kerja (KUK) dan Indikator Unjuk Kerja (IUK)
Silabus
Pembelajaran
Metoda/ Media Pembelajaran
Waktu Pembelajaran
T
P
T
P
JML














Dari hasil identifikasi silabus, strategi pencapaian tujuan pelatihan dan pembelajaran dapat dituangkan dalam format Kurikulum Pelatihan Berdasarkan Kompetensi.

 B.  STANDAR KOMPETENSI 
  1. Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3-L)
  2.  Melakukan komunikasi di tempat kerja
  3.  Melaksanakan Pekerjaan Persiapan
  4.  Melaksanakan Pekerjaan Tanah
  5.  Melaksanakan Pekerjaan Bronjong
  6.  Menghitung Volume Hasil Pekerjaan
  7.  Melaksanakan  Pekerjaan Akhir
C.    Tujuan Pelatihan
Perumusan tujuan pelatihan mengacu kepada pencapaian minimal kompetensi yang ditentukan dengan indikator kompetensi yaitu : Dalam kondisi tertentu mampu melakukan suatu pekerjaan, sesuai volume, dimensi dan estetika yang ditentukan, dengan kualitas sesuai standar mutu/ spesifikasi, dan selesai dalam tempo yang ditentukan.
Penetapan waktu dan metodologi Pelatihan dapat disesuaikan dengan variabel-variabel kondisi peserta pelatihan dan tersedianya prasarana dan sarana pelaksanaan Pelatihan, namun yang pasti dan paling penting tetap berpegang teguh kepada tercapainya tujuan pelatihan yang sudah ditentukan.

Tujuan Pelatihan dirumuskan sebagai berikut :
a.      Tujuan Umum Pelatihan
Setelah mengikuti pelatihan  mampu : Membuat rencana mutu dan melakukan pengendalian mutu untuk memastikan hasil pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang termuat dalam dokumen kontrak.
b.     Tujuan Khusus Pelatihan
Setelah mengikuti pelatihan mampu:
1)    Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3-L)
2)    Melakukan Komunikasi Di Tempat Kerja
3)    Melaksanakan Pekerjaan Persiapan
4)    Melaksanakan Pekerjaan Tanah
5)    Melaksanakan Pekerjaan Bronjong
6)    Menghitung  Hasil Pekerjaan
7)    Membuat Laporan Kegiatan Pelaksanaan Pekerjaan
D.   Persyaratan Peserta Pelatihan
1.      Persyaratan Peserta
Peserta adalah tenaga kerja konstruksi yang  memiliki :
a.      Sikap, perilaku, dan potensi yang meliputi :
3.1   Moral yang baik;
3.2   Dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan organisasi;
3.3   Kemampuan menjaga reputasi diri dan perusahaannya;
3.4   Jasmani dan rohani yang sehat;
3.5   Motivasi yang tinggi untuk meningkatkan kompetensi;
b.      Berijazah serendah-rendahnya Diploma III Teknik substansi konstruksi atau sejenisnya
c.      Pengalaman kerja minimal 2 (dua) tahun di Bidang pekerjaan konstruksi
2.      Seleksi Peserta   
Seleksi dilakukan untuk menjamin peserta Pelatihan akan ditempatkan pada posisi atau peran sesuai kompetensi yang didapat dari pelatihan.
D.   Lama Pelatihan
Berdasarkan hasil analisis dan kajian posisi Indikator Unjuk Kerja / Keberhasilan (IUK) telah dihitung kebutuhan waktu pembelajaran dalam menit, kemudian diformulasikan ke dalam jam pelajaran @ 45 menit menjadi sebagai berikut :
1.      Mata Pelatihan Kompetensi Umum                                 =    6    jam pelajaran.
2.      Mata Pelatihan Kompetensi Inti                                       =   45   jam pelajaran
3.      Mata Pelatihan Kompetensi Pilihan / Khusus                  =    0   jam pelajaran.
4.      Praktek / Studi Kasus                                                      =   16   jam pelajaran
5.      Evaluasi / Ujian                                                                =     8   jam pelajaran
                                                           Jumlah                        =   75   jam pelajaran


 E.  KURIKULUM & SILABUS 
Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3-L)
 Identifikasi Kebutuhan Perlengkapan K3-L untuk Pekerja
 rambu-rambu dan Semboyan K3  .
 Pengawasan Pelaksanaan K3-L




































































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar